Powered By Blogger
/

Selamat datang di blog ini, di mana setiap kata memiliki cerita. Setiap tulisan adalah sebuah perjalanan, mengungkapkan kisah-kisah yang terkadang tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari. Di sini, kami berbagi refleksi, inspirasi, dan pemikiran yang mengajak pembaca untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Setiap kata yang tertulis memiliki makna, dan setiap cerita yang diceritakan memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan menggugah hati.

Minggu, 16 Maret 2025

Aksara yang Tak Pernah Jadi Kata Apalagi Puisi

Aksara yang Tak Pernah Jadi Kata Apalagi Puisi

Di ujung malam, di antara kelam yang belum sempat terlupa, aku duduk. 
Sebuah pena terpegang di tangan, di atas kertas yang masih kosong, menunggu. 
Aksara-aksara berlari liar dalam benakku, berputar-putar mencari tempat untuk dipahatkan, namun tiada kata yang cukup untuk menampungnya.

Begitu banyak yang ingin kukatakan, begitu banyak yang tak terungkapkan. 
Setiap huruf seakan menghindar, bersembunyi dalam ruang hampa, menunggu saat yang tepat untuk keluar. 
Namun, detik-detik berlalu dan tetap saja mereka diam—tak pernah menjadi kata.

Inilah kita, dalam kesunyian ini—terjebak di antara waktu yang terus bergerak dan ruang yang terus mempersempit. 
Apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan, semua tergantung di udara, membeku, tidak bisa disentuh, tidak bisa diungkapkan.






Aksara itu, yang semestinya terangkai menjadi kalimat, kini hanya menjadi bayang-bayang dalam pikiranku. 
Kata-kata itu seperti hujan yang tak pernah jatuh, seperti daun yang tak pernah terjatuh ke tanah. 
Semuanya ada, namun tak sempat mewujud. Seperti kita, yang selalu berada di ambang, tapi tak pernah benar-benar ada.

Aku menyadari, barangkali ini adalah cara kita bertahan. 
Dalam kebisuan ini, kita membangun dunia kita sendiri—dunia yang tak perlu dijelaskan, tak perlu dimengerti oleh siapa pun selain kita. 
Dalam kekosongan ini, kita menemukan kedalaman yang tak terlihat.

Hujan yang tak kunjung turun, senja yang tak selesai meredup, dan malam yang enggan terbangun. 
Kita—aksara yang tak sempat menjadi kata—berada dalam pelukan waktu yang tak mengizinkan kita untuk menjadi lebih dari bayang-bayang. 
Tapi dalam diam, kita tetap ada. 
Dalam sunyi, kita tetap hidup.

Dan mungkin, memang begitulah kita—tak perlu sempurna, tak perlu utuh. 
Sebagaimana aksara yang tidak harus menjadi kata, begitu pula kita, yang tak perlu menjadi sesuatu yang harus dimengerti. Kita hanya perlu ada, cukup untuk menjadi diri kita sendiri, dalam segala bentuk yang tak tampak.


Tidak ada komentar:

Postingan Populer

Arsip Blog