Tawa Yang Tak Sempat Lahir
Di sudut malam yang menggigil, kita duduk berhadapan.
Seperti dua bayangan yang lupa caranya menyatu dengan cahaya.
Angin menyelinap di antara sela-sela keheningan,
membawa dingin yang tak hanya merasuk kulit, tetapi juga hati.
Nafas kita akan jadi bahan tertawaan, begitu katamu—
separuh bercanda, separuh getir.
Aku menatapmu, mencari jejak tawa yang tak pernah benar-benar lahir.
Mungkin dulu kita tahu bagaimana caranya tertawa,
tapi kini, bahkan senyum pun terasa asing di wajah kita sendiri.
Kita ingin tertawa, tapi tidak bisa.
Ada sesuatu yang tercekat di tenggorokan,
sehembus nafas yang tak sempat menjadi kata.
Mungkin luka, mungkin kenangan,
mungkin kita sendiri yang terlalu lama berpura-pura bahagia.
Dulu, kita percaya suara kita akan menggema,
menembus dinding-dinding sunyi yang mengukung.
Dulu, kita yakin dunia akan mendengar cerita kita.
Tapi lihatlah kita sekarang—
bahkan nafas pun nyaris tak terdengar.
"Apa yang lucu?" tanyaku, suaraku lebih mirip bisikan angin yang lelah.
"Kita," jawabmu.
Suaramu lirih, seakan takut pecah jika terlalu keras diucapkan.
"Kita yang dulu penuh percaya diri,
kini hanya bayangan yang terjebak dalam sunyi."
Malam menelan suara-suara,
seperti kita menelan luka tanpa sempat mengecap manisnya tawa.
Semua yang ingin diungkapkan hanya berakhir sebagai bisikan di dada,
tak pernah menemukan jalannya menjadi suara.
Di antara sunyi dan sesak, kita masih duduk berhadapan.
Menunggu, entah apa.
Mungkin menanti sesuatu yang tak akan pernah datang.
Mungkin sekadar membiarkan waktu memadamkan
sesuatu yang dulu pernah menyala.
Tapi apakah api yang padam benar-benar hilang,
atau hanya berubah menjadi bara yang tak terlihat?
Kita tak tahu.
Kita hanya duduk di sini,
bersama luka, bersama tawa yang tak pernah lahir,
dan bersama nafas yang semakin lirih.
Baca Juga : Sajak Tanpa Nama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar