Powered By Blogger
/

Selamat datang di blog ini, di mana setiap kata memiliki cerita. Setiap tulisan adalah sebuah perjalanan, mengungkapkan kisah-kisah yang terkadang tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari. Di sini, kami berbagi refleksi, inspirasi, dan pemikiran yang mengajak pembaca untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Setiap kata yang tertulis memiliki makna, dan setiap cerita yang diceritakan memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan menggugah hati.

Tampilkan postingan dengan label belajar puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Maret 2025

Sajak yang Tak Pernah Pergi

Sajak yang Tak Pernah Pergi


Kelak,
ketika kelopak mata tak pernah lagi terbuka,
dan cahaya pagi hanya menjadi bisikan
di antara waktu yang perlahan meluruh,
aku ingin tetap hadir dalam baris-baris sunyi,
berbisik lembut melalui angin yang singgah di jendela kamarmu.

Izinkan sajak-sajakku,
yang memandangmu dengan setulus-tulusnya aksara,
menjadi mata yang tak pernah lelah menatapmu,
meski raga telah lama melebur dalam tanah yang diam.
Biarkan setiap kata yang kutinggalkan
mengalir di nadimu seperti sungai yang tak kenal lelah
mencari muaranya di laut keabadian.

Grajagan Beach 2018



Jika kelak suaraku hanya gema yang samar,
dengarkanlah ia dalam desau angin,
dalam gemerisik dedaunan yang merintih di senja temaram.
Aku akan tetap di sana,
di antara jeda kata dan napas yang kau hembuskan,
menjaga dan mencintaimu
dengan kesetiaan yang bahkan maut tak mampu renggut.

Maka jangan tangisi kepergianku,
sebab aku tak benar-benar pergi.
Aku tinggal di setiap bait yang kau baca,
di setiap rindu yang kau bisikkan pada malam yang enggan lelap.
Aku adalah aksara yang tak akan pudar,
menjadi sajak abadi yang terus mengeja namamu,
bahkan ketika dunia telah melupakan segalanya.





Jumat, 14 Maret 2025

Takdir Yang Memilih, Hidup Yang Menjalani

Takdir Yang Memilih, Hidup Yang Menjalani



Kita adalah yang terpilih untuk hidup,
juga terpilih untuk mati.
Seperti daun yang jatuh dalam pelukan angin,
tanpa bisa menawar kapan ranting melepasnya pergi.
Kita hadir bukan karena permintaan,
tapi karena semesta menghendaki keberadaan.

Hidup itu pilihan, katanya,
sebuah kesalahan definisi.
Nyatanya, kita yang dipilih untuk hidup,
diundang ke dunia tanpa mengetuk pintu,
diletakkan dalam takdir yang tak kita susun.
Seperti sungai yang mengalir ke muara,
kita mengikuti arus yang entah ke mana bermuara.

Kita bernapas karena dipilih,
berjalan karena dijalankan,
bertemu karena benang-benang waktu telah disulam,
dan mencinta karena semesta menghendaki kita merasakan kehilangan.
Sebab cinta bukan sekadar rasa,
melainkan jejak yang tertinggal setelah perpisahan datang.




Tak ada yang benar-benar bebas,
hanya mereka yang percaya bahwa memilih adalah kuasa.
Padahal, kita hanya mengikuti langkah yang telah lebih dulu ditoreh,
menapaki jalan yang sudah ditentukan semesta.
Kita ibarat bidak dalam permainan,
bergerak di papan yang telah digoreskan garis-garis takdir.

Namun, jika takdir yang menuntun,
biarlah kita tetap menggenggam harapan.
Karena meski dipilih untuk hidup,
kita masih bisa memilih cara mencintai kehidupan.
Mencintainya dalam sunyi atau dalam tawa,
membiarkannya berlalu atau mengabadikannya dalam kata.

Sebab meski hidup telah ditentukan,
cara kita menjalani, cara kita merasakan,
adalah satu-satunya kebebasan yang tersisa.


Postingan Populer

Arsip Blog