Powered By Blogger
/

Selamat datang di blog ini, di mana setiap kata memiliki cerita. Setiap tulisan adalah sebuah perjalanan, mengungkapkan kisah-kisah yang terkadang tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari. Di sini, kami berbagi refleksi, inspirasi, dan pemikiran yang mengajak pembaca untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Setiap kata yang tertulis memiliki makna, dan setiap cerita yang diceritakan memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan menggugah hati.

Tampilkan postingan dengan label puisi hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi hidup. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Maret 2025

Sajak yang Tak Punya Pembaca

Sajak yang Tak Punya Pembaca


Terkadang, aku ingin kita
menjelma sebait sajak yang tak punya pembaca,
terlupakan di halaman yang tak pernah tersentuh,
terselip di antara lembar-lembar yang menguning oleh waktu.

Tak perlu ada mata yang menelusuri kata,
tak perlu ada bibir yang mengeja makna,
sebab kita adalah rahasia
yang hanya berbisik pada sepi,
hanya bergema dalam hati yang saling mengerti.

Biarkan dunia terus melaju,
dengan bisingnya yang tak memberi jeda,
dengan musim yang terus mengeja perubahan,
sementara kita tetap di sini,
diam dalam bait-bait sunyi,
menjadi puisi yang tak butuh sorak atau tepuk tangan.


Flight 2018


Sebab tak semua kisah ingin diceritakan,
tak semua rindu ingin diabadikan,
beberapa cinta memilih bersembunyi dalam gelap,
bukan karena takut, bukan karena ragu,
melainkan karena ia terlalu suci
untuk dijamah oleh tafsir yang fana.

Maka biarkan kita tetap di sini,
menjadi aksara yang cukup bagi satu sama lain,
sebab makna sejati tak selalu harus ditemukan,
kadang ia hanya perlu ada—
tak tersentuh, tak terbaca,
namun tetap abadi.





Jumat, 14 Maret 2025

Takdir Yang Memilih, Hidup Yang Menjalani

Takdir Yang Memilih, Hidup Yang Menjalani



Kita adalah yang terpilih untuk hidup,
juga terpilih untuk mati.
Seperti daun yang jatuh dalam pelukan angin,
tanpa bisa menawar kapan ranting melepasnya pergi.
Kita hadir bukan karena permintaan,
tapi karena semesta menghendaki keberadaan.

Hidup itu pilihan, katanya,
sebuah kesalahan definisi.
Nyatanya, kita yang dipilih untuk hidup,
diundang ke dunia tanpa mengetuk pintu,
diletakkan dalam takdir yang tak kita susun.
Seperti sungai yang mengalir ke muara,
kita mengikuti arus yang entah ke mana bermuara.

Kita bernapas karena dipilih,
berjalan karena dijalankan,
bertemu karena benang-benang waktu telah disulam,
dan mencinta karena semesta menghendaki kita merasakan kehilangan.
Sebab cinta bukan sekadar rasa,
melainkan jejak yang tertinggal setelah perpisahan datang.




Tak ada yang benar-benar bebas,
hanya mereka yang percaya bahwa memilih adalah kuasa.
Padahal, kita hanya mengikuti langkah yang telah lebih dulu ditoreh,
menapaki jalan yang sudah ditentukan semesta.
Kita ibarat bidak dalam permainan,
bergerak di papan yang telah digoreskan garis-garis takdir.

Namun, jika takdir yang menuntun,
biarlah kita tetap menggenggam harapan.
Karena meski dipilih untuk hidup,
kita masih bisa memilih cara mencintai kehidupan.
Mencintainya dalam sunyi atau dalam tawa,
membiarkannya berlalu atau mengabadikannya dalam kata.

Sebab meski hidup telah ditentukan,
cara kita menjalani, cara kita merasakan,
adalah satu-satunya kebebasan yang tersisa.


Postingan Populer

Arsip Blog