Powered By Blogger
/

Selamat datang di blog ini, di mana setiap kata memiliki cerita. Setiap tulisan adalah sebuah perjalanan, mengungkapkan kisah-kisah yang terkadang tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari. Di sini, kami berbagi refleksi, inspirasi, dan pemikiran yang mengajak pembaca untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Setiap kata yang tertulis memiliki makna, dan setiap cerita yang diceritakan memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan menggugah hati.

Tampilkan postingan dengan label Emosional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emosional. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Maret 2025

Rahim Puisi

Rahim Puisi

Menelanjangi bait, menyetubuhi luka.
Ahhh, secepat itu perih berejakulasi.
Menyebar ke rongga rahim puisi,
mengandung duka, lahir pun air mata.

Siapa yang menghamili sajak ini,
jika bukan kesedihan yang tak kunjung reda?
Kata-kata merintih di antara sela napas,
menyusui sunyi dari payudara rindu yang pecah.

Malam melahirkan baris-baris yang menggigil,
tangisnya menggemakan kepedihan yang tak tertuliskan.
Tinta hitam mengalir seperti darah,
melukiskan nyeri di atas kertas yang kehabisan cahaya.

Dan engkau,
yang menulis puisi dengan nyawa,
apakah lelah melahirkan kesedihan yang sama?
Atau justru kau menikmati perihnya,
sebab hanya di dalam luka, kau merasa hidup?

Kau biarkan lembar-lembar kertas menjadi ranjang,
tempat kesakitan bersetubuh dengan ingatan.
Huruf-huruf mengerang, bersimpuh di antara baris,
memohon jeda dari kepedihan yang kau ukir.

Puisi-puisimu adalah anak-anak duka,
lahir tanpa pelukan,
dibaptis dengan airmata,
disusui dengan kepahitan yang tak kunjung surut.

Mereka tumbuh dalam tubuh kata,
dengan nadi yang terbuat dari sunyi,
dan mata yang hanya mengenal gelap.

Namun, tidakkah kau bosan melahirkan kesakitan?
Tidakkah kau ingin menulis tentang fajar,
tentang cahaya yang membelah langit,
tentang cinta yang tak tumbuh dari derita?

Atau barangkali, kau telah terlalu akrab dengan luka,
hingga takut jika kebahagiaan datang,
pena akan kehilangan bisiknya,
dan kertas akan kembali menjadi kosong?

Maka, biarlah puisi ini menjadi saksi,
tentang seorang penyair yang tak pernah pulih,
tentang bait-bait yang lahir dari rahim duka,
dan mati dalam pelukan sepi.


Red Island Beach Banyuwangi 2018


Kesepian yang Tak Beranjak

Kesepian yang Tak Beranjak


Kesepian, seperti pengemis tua

yang tak juga beranjak pergi.

Meski telah kau sedekahkan tubuhmu,

ia tetap bersimpuh di sudut jiwamu,

mengulurkan tangan kosong, meminta yang tak bisa kau beri.


Malam-malam kau coba mengusirnya—

menenggak sunyi hingga mabuk,

menyelimuti diri dengan bayang-bayang yang kau panggil cinta.

Tapi kesepian tetap bertahan,

menatapmu dengan mata yang lelah namun setia.


Barangkali, ia bukan tamu yang bisa kau usir.

Barangkali, ia rumah yang harus kau peluk.


Kau pikir, berbagi tubuh akan menjadikannya reda,

menenggelamkan lengang dalam dekap yang asing.

Tapi kesepian tak butuh pelukan,

ia butuh tempat di hatimu yang kosong,

ia butuh kau mengakui keberadaannya.


Kau biarkan lagu-lagu lama mengisi kamar,

mencari gema dari suara yang dulu menghangatkan.

Namun nyanyian itu hanya menyayat lebih dalam,

seperti angin yang menyelinap lewat jendela yang setengah terbuka,

membisikkan nama yang tak lagi menjawab.


Berapa banyak langkah yang telah kau ambil,

mencari tempat di mana sepi tak menjelma bayang-bayang?

Berapa banyak mata yang kau tatap,

berharap menemukan terang di dalamnya?


Tapi sepi tak bisa dihapus dengan kehadiran yang semu.

Ia akan selalu menemukanmu,

duduk di ujung ranjang, mengamatimu dari cermin,

mengiringi langkahmu di trotoar lengang.


Mungkin, sudah saatnya kau berhenti melawan.

Mungkin, sudah saatnya kau genggam tangan kesepian,

dan bertanya dengan suara lirih,

"Apa yang kau inginkan dariku?"


Maka ia akan tersenyum,

dan menjawab dengan suara yang selama ini kau hindari:

"Aku hanya ingin kau mengenali aku sebagai bagian dari dirimu."

Postingan Populer

Arsip Blog