Rahim Puisi
![]() |
| Red Island Beach Banyuwangi 2018 |
Selamat datang di blog ini, di mana setiap kata memiliki cerita. Setiap tulisan adalah sebuah perjalanan, mengungkapkan kisah-kisah yang terkadang tersembunyi dalam kehidupan sehari-hari. Di sini, kami berbagi refleksi, inspirasi, dan pemikiran yang mengajak pembaca untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Setiap kata yang tertulis memiliki makna, dan setiap cerita yang diceritakan memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan menggugah hati.
![]() |
| Red Island Beach Banyuwangi 2018 |
Kesepian, seperti pengemis tua
yang tak juga beranjak pergi.
Meski telah kau sedekahkan tubuhmu,
ia tetap bersimpuh di sudut jiwamu,
mengulurkan tangan kosong, meminta yang tak bisa kau beri.
Malam-malam kau coba mengusirnya—
menenggak sunyi hingga mabuk,
menyelimuti diri dengan bayang-bayang yang kau panggil cinta.
Tapi kesepian tetap bertahan,
menatapmu dengan mata yang lelah namun setia.
Barangkali, ia bukan tamu yang bisa kau usir.
Barangkali, ia rumah yang harus kau peluk.
Kau pikir, berbagi tubuh akan menjadikannya reda,
menenggelamkan lengang dalam dekap yang asing.
Tapi kesepian tak butuh pelukan,
ia butuh tempat di hatimu yang kosong,
ia butuh kau mengakui keberadaannya.
Kau biarkan lagu-lagu lama mengisi kamar,
mencari gema dari suara yang dulu menghangatkan.
Namun nyanyian itu hanya menyayat lebih dalam,
seperti angin yang menyelinap lewat jendela yang setengah terbuka,
membisikkan nama yang tak lagi menjawab.
Berapa banyak langkah yang telah kau ambil,
mencari tempat di mana sepi tak menjelma bayang-bayang?
Berapa banyak mata yang kau tatap,
berharap menemukan terang di dalamnya?
Tapi sepi tak bisa dihapus dengan kehadiran yang semu.
Ia akan selalu menemukanmu,
duduk di ujung ranjang, mengamatimu dari cermin,
mengiringi langkahmu di trotoar lengang.
Mungkin, sudah saatnya kau berhenti melawan.
Mungkin, sudah saatnya kau genggam tangan kesepian,
dan bertanya dengan suara lirih,
"Apa yang kau inginkan dariku?"
Maka ia akan tersenyum,
dan menjawab dengan suara yang selama ini kau hindari:
"Aku hanya ingin kau mengenali aku sebagai bagian dari dirimu."
Aku berusaha menggenggam waktu yang terus berlari,
Namun jariku hanya memeluk angin.
Seperti memegang sesuatu yang tidak bisa dilihat,
Namun terasa begitu berat, menekan dada.
Di setiap detik yang berlalu, aku merasa terhimpit,
Waktu itu mencibir, berlalu begitu saja,
Seolah tak peduli pada siapa yang berusaha mengejarnya.
Aku mencoba merentangkan tangan,
Namun hanya ada udara yang kosong,
Dan aku tak tahu lagi apa yang aku kejar.
Aku menanam harapan,
Namun akarnya tidak menembus tanah.
Aku pikir, aku sudah menemukan tempat untuk tumbuh,
Tapi bumi ini keras, tak memberi ruang.
Harapanku pun mati perlahan,
Tertutup oleh batu-batu keraguan.
Setiap benih yang ku tanam terasa sia-sia,
Seperti air yang mengalir pergi tanpa meninggalkan bekas.
Aku ingin percaya pada apa yang kumiliki,
Namun tanah yang kutanam hanya mengering,
Menjadikan harapan itu kosong dan rapuh.
Aku ingin menetap di tempat yang kukenal,
Namun seperti daun yang jatuh tanpa arah,
Aku terbawa angin, tak tahu ke mana.
Ada rumah yang kuimpikan, ada tempat yang kuinginkan,
Tapi semuanya terasa jauh,
Seperti bayangan yang semakin menjauh saat ku dekati.
Aku mencari tempat di dunia ini,
Namun aku merasa hanya seorang pelancong,
Yang tak tahu di mana ia akan berhenti.
Aku jatuh, berputar dalam kesepian,
Seperti daun yang terombang-ambing,
Dihembuskan angin tak menentu.
Setiap langkah terasa hampa,
Setiap usaha sia-sia.
Aku berjalan dalam kegelapan,
Mencari cahaya yang tak pernah datang.
Apa yang aku kejar, hanya bayangan belaka,
Semakin aku dekati, semakin ia menjauh,
Seperti mimpi yang sulit digenggam.
Dan aku terus mengejarnya,
Tanpa tahu apa yang akan terjadi,
Mencari sesuatu yang seolah tak pernah ada,
Namun aku terus melangkah,
Karena kadang, kehilangan adalah perjalanan yang harus dijalani,
Tanpa ada jaminan apa yang akan ditemukan di ujung sana.